Waktu kecil saya pernah bertanya pada bapak saya. "Kok bapak bisa mengeluarkan asap dari mulut?" "Apa itu yang ada di bibir bapak? Kok ada apinya?". Ya, bapak saya adalah seorang perokok aktif. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya juga akan menceritakan bagaimana bapak menghibur saya dengan mainan asap rokok yang sesekali ditiupkan ke kami. Kami senang sekali diberi mainan asap itu. Bapak bilang : "tapi kamu tidak boleh, masih kecil. Ini namanya rokok. Udut"
Kadang, kami sesekali juga disuruh ke warung untuk membeli rokok Jarum 76 kegemaran bapak, kalau tidak salah jaman dulu harganya 225 rupiah perbungkus. Lebih mahal sedikit dari pada harga sepiring nasi dengan sayur empes tahu dan tempe kemul. Kira-kira, saya masih usia lima tahun saat itu.
Masa kecil saya di Wonosobo, yang erat dengan lingkungan para perokok-perokok muda. Entah alasan daerah yang dingin, atau entah memang alasan daerah penghasil tembakau. Tak main-main, mereka merokok dengan membeli tembakau irisan di pinggir jalan, dicampur dengan klembak menyan. Saya juga memiliki teman yang sejak SD sudah merokok bersama bapaknya.
Suatu sore, saat sedang tidur siang, saya dibangunkan oleh kakak saya, kakak sepupu, laki-laki berusia mungkin antara 25-30an, yang tinggal di rumah bapak. Beliau sedang menumpuk kertas koran yang sudah tidak digunakan. Saya melihat dua kakak perempuan saya, pada duduk di lantai dengan bersandar pada tembok kayu, rumah lama kami jaman dulu. Satu kakakku sedang menangis, entah apa aku tak tahu.
Kemudian mas sepupu itu menawarkan sesuatu. "Mau mencoba seperti bapak? Mumpung bapak tidak ada". Kemudian beliau melinting kertas koran itu menjadi potongan lintingan yang kecil-kecil. Kemudian beliau meminta saya menjepit lintingan kertas koran itu dengan bibir, persis seorang perokok. Kemudian dia menginstruksikan agar disedot. Setelah siap, beliau membakar ujung lintingan koran, lintingan rokok palsu itu, dan saya diminta mengisap sedikit...
Akhirnya saya baru tahu, bahwa kakak perempuan saya menangis karena itu. Dada kami kena asap bakaran lintingan koran tersebut. Saya pun menangis kencang sambil terbatuk-batuk, dengan rasa sesak terbakar dan bingung harus bagaimana. Sampai akhirnya saya disuruh minum, dan tangisanku berhenti. Kejam memang. Anak sekecil itu disumpal lintingan koran, dan dicekoki asap bakaran kertas itu.
Namanya mas Waluyo. Beliau adalah saudara sepupu dari jalur keluarga ibu, dari pelosok Ngawi sana. Beliau orang yang pendiam, gampang gugup ketika berbicara, tapi rajin sekali bekerja. Beliau sendiri bukanlah seorang perokok. Keseharian di rumah kami, sering diminta untuk mengurus kakak-kakak saya, saya dan adik. Kadang sambil menggendong satu anak ibu, beliau menyapu lantai. Kemudian beliau bekerja di sebuah stasiun radio pemerintah daerah di Wonosobo. Itu adalah orang yang telah mencekoki saya asap bakaran kertas koran itu.
Selama saya sekolah, saya sering diajak merokok teman, ditawari, bahkan mau dipaksa. Dan saya memilih tidak. Rupanya, trauma di otak, sensasi rasa panas di dalam dada saat dicekoki asap itu tidak hilang. Bahkan sampai dewasa dan sampai tua. Pun hingga hari ini, saya adalah seorang yang tidak merokok. Di SMA, hampir semua murid laki adalah perokok, atau setidaknya pernah merokok. Kecuali dua orang. Saya dan Didik. Sedangkan Didik itu sendiri adalah kemenakan dari mas Waluyo.
Kini, saya bisa membayangkan, apa yang terjadi saat ini, jika mas Waluyo itu tidak pernah hadir dalam hidup saya. Apa yang terjadi jika mas Waluyo tidak mencekoki saya. Ada sebuah pelajaran visioner dan futuristik yang senyap. Dari orang yang jika ingin berbicara selalu ada gagap terbata.
Hari ini, 16 September 2026, mas Waluyo meninggal dunia tadi malam, karena sakit. Sejak pagi, HP saya dipenuhi kabar tersebut dari berbagai jalur keluarga. Kebetulan posisi saya memang sedang di luar kota. Mungkin kabar ini akan sedikit mengejutkan. Dan sekaligus saya menyesal saat terakhir ke Wonosobo, saya tidak sekalian berjumpa dengannya.
Terima kasih mas Waluyo, atas "kekejaman" masa lalu yang ternyata memang sebuah pendidikan yang sangat berharga. Banyak teman saya, bahkan teman wanita yang bangga "aku pernah mencoba rokok ini, aku pernah mencoba klembak menyan, aku pernah setahun merokok ini, aku perokok olahragawan ya tetep juara, mbahku perokok ya sampai 100 tahun nggak mati-mati". Dan saya adalah seseorang yang bilang : "aku adalah orang yang bangga dengan sama sekali, hingga usia sekarang tidak pernah merokok, dan tidak pernah ada keinginan sekalipun dengan merokok". Saya juga mengajarkan pada anak saya betapa bangga menjadi orang yang bisa mempertahankan diri untuk tidak merokok. Ya, itu adalah jasa mas Waluyo. Sebenarnya sangat banyak jasa beliau, namun kisah cekok asap ini menjadi spesial bagi saya, karena menjadi salah satu karakter yang menandai saya di antara teman-teman saya.
"Tapi kamu perokok pasif, itu lebih berbahaya". Kata seorang toksik untuk mempengaruhiku untuk mencoba merokok.
"Sejak kecil, aku terpapar asap rokok. Sekarang juga ada kemungkinan aku terpapar dari teman. Tapi bukan aku yang akan memaparkan itu". Itu adalah jawabanku terhadap ungkapan seperti itu.
Terima kasih mas Waluyo. Jasadmu mati. Tapi ajaran itu tetap hidup. Swargi Langgeng. Innalillahi wa innailaihi rojiuun. Semua milih Tuhan, dan kepada Tuhanlah semua ini akan kembali...
Untuk keluarga kecilnya, sudah barang tentu saya ikut "nandang duhkita" dengan berpulangnya beliau, tentu dengan sejumlah penyesalan mengapa saya tidak menemui beliau di saat terakhir saya ke Wonosobo. Semoga Tuhan memberikan kebesaran hati untuk keluarga semua.
Sedaya lampah sampun paripurna
Dene swargi sampun ing tapak pungkas..
Atur sugeng tindak..
--- bms ---
Komentar
Posting Komentar