ICU

Malam itu saya masih mondar-mandir dekat ruang tunggu ICU sebuah Rumah Sakit di kota kami. Setenang-tenang menjaga keluarga yang sakit di ruang perawatan khusus memang tidak ada yang enak. Masih berpikir tentang setelah sembuh apa yang harus dilakukan agar yang sekarang sakit menjadi sehat kembali, berpikir juga tentang pekerjaan yang terbengkalai, berpikir juga biaya, dan hal-hal yang terjadi berhubungan akibat dengan adanya sakit tersebut.

Sekonyong-konyong muncul sebuah tandu dorong yang sedang berisi orang sakit, masuk ke ruang ICU dengan peralatan infus dan lain sebagainya. Sepertinya seorang wanita. Tandu didorong oleh tiga orang lelaki berseragam operasi, dan dipandu seorang wanita yang juga masih menggunakan masker operasi. Tandu didorong masuk ruangan, dan seorang laki-laki bermasker tadi meminta keluarga berhenti pada batas ruangan, meminta agar keluarga tidak memasuki ruangan ICU lebih dulu.

Wajah tegang dan gelisah terlihat di wajah para anggota keluarga. Ada sekitar enam orang, yang terdiri dari dua laki-laki muda, dua lelaki yang sepertinya sudah tua, dan dua wanita yang sepertinya juga sudah tua. Dugaan saya, dua laki-laki muda adalah suami dan saudara kandung si sakit, dua lelaki tua adalah bapak dan bapak mertua si sakit, dua wanita tua adalah ibu dan ibu mertua si sakit.

Lima menit, si laki-laki bermasker keluar ruangan dan berkata : "Keluarga Nyoya F*******". Lantas seluruh anggota keluarga datang dengan harap dan cemas menanti kepastian. Si laki-laki melanjutkan: "Ini keadaan kritis, masih menunggu proses berikutnya berlangsung.....". Amplitude suaranya yang melirih membuat saya tidak lagi bisa jelas apa yang dia katakan. Kemudian suaranya kembali mengeras, sambil memberikan dua tas plastik, satu berwarna hitam dan satu berwarna putih. Dia berkata : "Yang ini ari-ari dan yang ini rahim". Spontan seorang wanita anggota keluarga yang sepertinya berasal dari desa, memegangi kepala, pertanda bahwa dia shock. Tentu semua telah menebak. Ari-ari / plasenta adalah bekas kelahiran anak, rahim adalah tempat kandungan wanita. Dan semua menebak, bahwa dengan berkumpulnya keluarga disitu dan tidak ada seorang bayipun, maka kemungkinan bayi itu adalah telah meninggal dalam kandungan. Kemungkinan juga dengan shocknya si ibu si sakit, sangat besar kemungkinan bahwa itu seharusnya adalah anak pertama.

Si ibu wanita itu sibuk berdoa dengan mata sembab. Tiba-tiba dia sibuk mencari toilet. Setelah keluar beberapa saat, dia tidak jadi, karena ternyata toilet ada satu kompleks dengan kamar jenazah yang terletak di ujung lorong gelap berbelok, terpencil dari tempat lain. Toilet bersanding persis dengan kamar jenazah. Seorang laki-laki menawarkan diri menemani hingga kamar jenazah..

-

Sekian saat saya mengobrol dengan sebelah tunggu saya. Seorang laki-laki, kira-kira lima hingga tujuh tahun lebih tua daripada saya. Dia bercerita tentang anaknya berusia 1,5 tahun yang menderita demam dan kejang. Dia bercerita bahwa sempat tambah tranfusi darah, pekerjaan juga tertinggalkan, istrinya yang akhirnya harus menunggu intensif di dalam.

-

Ada juga sebelah lagi, seorang ibu yang rumahnya sangat jauh terpencil di sebuah kecamatan paling ujung tenggara di kabupaten ini. Sekali jalan harus mengeluarkan uang Rp. 50.000, 00, yang salah satunya ditempuh dengan ojek seharga Rp. 30.000,00. Anaknya sakit, berumur 15 tahun menderita OTB, penyakit Tubercolusis yang telah menjalar ke appendix atau usus buntu. Konon kemarin kata perawat, adalah penyakit yang cenderung didapat oleh orang berekonomi rendah. Saya juga melihat bahwa si ibu ini tidak membawa alat komunikasi juga, dan hanya bergantian jaga ketika si suami datang, dan itu tidak jelas kapan datangnya karena tidak dapat berkomunikasi. Adat desa si ibu ini begitu kentara dengan cara berpakaian, dan setiap saat dia meminjam sapu dan serok sampah untuk menyapu seluruh ruangan di situ.

-

Beberapa kali saya telah menunggu orang sakit, sejak dulu jaman di Jogja, mulai dari kakek, paman-paman saya, dan juga teman. Ruangan ICU, IGD adalah ruangan yang menyeramkan. Saya sendiri sekarang sedang menunggu ibu yang kebetulan mendadak mendapatkan serangan jantung beberapa hari lalu. Saat hari serangan tersebut, sempat lebih tegang karena harus mengetahui bahwa ibu harus mendapatkan tindakan pacu jantung dengan listrik. Namun saya bersyukur, keadaan sudah sangat baik sekarang, hingga telah dapat makan sendiri dan mengupas buah untuk dikonsumsi.

-

Di beberapa tahun silam, di sebuah Rumah Sakit di Jogja, saya pernah memilih jalan pulang karena terjadi rapat singkat keluarga di depan sebuah bangsal tentang:"apakah respirator dari paman saya akan dicabut, mengingat dicabut ataupun tidak hasilnya akan sama saja?" Saya menghindari jawaban itu... dengan memilih pergi.

-

Tersadar, jam telah menunjukkan pukul 23.59. Saatnya untuk tidur.. Mereka para penunggu juga menghibur kegelisahannya dengan memilih tidur...




Wonosobo, 21 Januari 2013

Ilustrasi asli RSUD Setyonegoro : para penunggu pasien ICU yang memilih tidur
Kabupaten Wonosobo

Komentar

  1. Semoga cepat sehat lagi.. biar bisa bikin bolu keju lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat, anda sukses masuk jamaah WATHONIAH

      Hapus
  2. mari kita jaga kesehatan.. karena saya pun termasuk yg serem ketika harus masuk ke ICU sebagai pengantar.. apalagi sebagai pasien, hiyy semoga dijauhkan.

    Cepet Sehat buat iBu

    BalasHapus
  3. Rumah Sakit...
    Megah tapi tak sedikit yang rapuh hatinya didalam sana... :(
    Akupun pernah merasakannya...

    Ya, Rumah sakit tetap menjadi manfaat untuk kita yang mau merenungkinya. Berkontemplasi...
    Moga cepet dhangan ya Lik Sibuk....

    Buat Panjenengan, tetep semangat n gak boleh sakit lhooo...!
    Take Care...!
    Thanks

    BalasHapus

Posting Komentar