Langsung ke konten utama

Bocah Bajang penghuni Terowongan Sungai

Boleh ya, saya cerita horor lagi. Meski saya memang ndak suka pikiran saya berisi hal-hal yang tak masuk akal. Saya yakin, semua ada penjelasan ilmiahnya, cuma kita yang belum sampai saja. Saya pernah cerita tentang horor itu di https://bimosaurus.wordpress.com/2014/05/18/sebuah-cerita-dari-bukit-seduplak-roto/ dan ini https://bimosaurus.wordpress.com/2014/02/21/lampor-sindoro/ .

Cerita ini adalah di kampung saya, di Wonosobo. Rumah orang tua yang damai. Dulu rumah itu membelakangi sungai dan jalan raya (jalan Bismo). Untuk ke depan rumah harus lewat kampung dulu. Bapak akhirnya mengubah rumah dengan cara menutup sungai dengan membangun terowongan, dan menghadapkan rumah ke jalan Bismo itu. Pembangunan terowongan itu tidak berlangsung lancar. Bapak mulai membangun terowongan itu saat saya masih kelas 5 SD. Terowongan itu di atasnya ditimbun tanah hingga rata dengan jalan. Kemudian bapak baru sempat merenovasi rumah itu setelah saya SMA. 

Saat timbunan tanah terowongan itu berusia 1-2 tahun, di atasnya ditanami banyak pohon, seperti pohon pepaya, pohon bunga matahari, talas, dan lain sebagainya. Kemudian ditambah rimbun dengan adanya pohon waluh jipang (labu siam). Kamar lama saya, berhadapan dengan jalan, dan sedikit tertutup oleh rimbunnya tanaman yang ditanam bapak dan ibu. Menonton orang jalan, adalah hobi kami ketika kurang kerjaan (bahasa sekarangnya adalah gabut). Terutama ketika setelah lulus SMA dan masih menganggur, senang sekali bisa melihat adek-adek (putri) SMA pada lewat di sana.


Makhluk Gundul Penghuni Pohon Pepaya

Kami sering sekali mendengar cerita tetangga ataupun cerita dari orang kampung seberang, tentang kondisi rumah kami di malam hari. Mereka bilang, bahwa sering ada makluk kecil gundul jika malam hari keluar masuk ke pohon pepaya itu. Sebelum dulu dibuat terowongan, dulu di pinggir sungai itu ada sebuah pohon nangka besar yang kata orang sering ada sesosok yang sering sholat di salah satu dahan pohon itu, dengan menggunakan mukena. Entah itu siapa, dan di tengah malamnya, sesosok laki-laki sering berdiri dengan kaki lebar dan tangan melebar ke atas. Entah juga itu siapa. Tapi saya juga belum pernah melihatnya.

Kembali ke penghuni pohon pepaya. Pohon pepaya itu ada dua batang. Satu di sisi utara, dan satu di sisi selatan. Pohon yang di sisi utara, memiliki buah yang kecil-kecil, enak, dan mudah matang, tidak mudah busuk, dan tanpa biji. Biasanya biji cuma satu, atau tiga biji saja. Cuma, memang mengambilnya sulit. Dia persis di atas sungai. Jadi agak berisiko.

Pohon yang selatan orang bilang adalah pepaya jinggo, jenis pepaya yang besar sebesar paha orang dewasa, dan rasanya sangat manis dan segar. Pohon sisi selatan ini yang sering disebut orang kampung seberang sebagai pohon tempat tinggal makhluk kerdil itu. Mungkin orang Sumatera akan bilang ini adalah orang bunian. Tapi saya sebagai orang yang kamarnya dekat dengan pohon itu, belum pernah mendapatkan gangguan, atau bahkan belum pernah melihat si bocah bunian ini.

Hal yang misterius yang pernah saya hadapi di situ tidak banyak. Salah satunya adalah pernah di dini hari sekitar jam 3.30, saya terbangun oleh suara burung. Dan ketika saya buka jendela, di seberang sungai hadapan jendela saya itu, ada seorang laki-laki berjaket, berbadan kekar, melihat ke arah jendela, dengan seekor burung (mungkin kakatua), memandangi kamar saya. Saya masih belum habis pikir. Siang hari masih terbayang. Malam berikutnya saya mendengar itu lagi, dan saya mengintip, dia sudah ada di posisi yang lebih dekat lagi. Seram rasanya.

Tentang makhluk gundul, saya tidak pernah melihatnya masuk ke pohon itu. Kata orang si, karena saya pemiliknya, yang tidak akan pernah dia ganggu. Ya saya iyain saja. Pun saya lebih percaya apa yang kulihat saja. Nglegani orang, (membuat lega orang ngomonb), toh katanya berpahala.


Bocah Gundul Penghuni Pohon Pepaya Pamit.

Tahun 95. Kira-kira 3 tahunan dari hiruk-pikuk tetangga tentang bocah gundul itu, akhirnya saya bebas. Saya berangkat ke Jogja untuk siap kuliah. Suatu malam saya bermimpi, tiga orang anak gundul datang pada saya, pamit katanya. Sambil memberikan salam hormat, mereka pergi dari pandangan saya. Saya terbangun kaget. Seperti nyata. Seperti ada sesuatu yang terjadi.

Tapi kembali lagi, saya masih orang yang didominasi rasionalitas.Saya pikir, semua itu karena saya terlalu mendengar cerita tetangga tentang anak gundul penghuni pohon pepaya itu. Jadi selalu terngiang di telinga saya. Ya akhirnya saya biarkan.

Seperti biasa, dua pekan saya di Jogja, saya balik ke Wonosobo untuk minta duit menjenguk orang tua. Seperti biasa, saya pulang dengan menaiki bis dari Jogja, sambung ke Magelang - Wonosobo. Sampai rumah biasanya memang sudah malam. Saat makan malam bersama ibu, ibu cerita bahwa beberapa hari lalu ada hujan badai dengan petir. Saya dengarkan saja kisah beberapa orang yang ketakutan dengan cuaca buruk itu.

Pagi, saya menengok ke halaman. Dulu tempat ini adalah belakang rumah. Sekarang sudah jadi depan rumah, karena bapak membalikkan untuk menghadap jalan. Ada yang membuat saya agak heran, sesuatu yang tidak semestinya. Pohon pepaya sebelah utara memang sudah lama akan ditebang, karena digunakan untuk jalan masuk rumah. Namun pohon pepaya sebelah selatan, hancur atasnya. Daunnya berantakan. Kata ibu, itu kena petir. "Kuwi mbokan wingi disamber bledheg". Kenapa tiba-tiba pikiran saya menuju ke bocah gundul penghuni pohon itu??

Saya pun berpikir, ini adalah kebetulan.



Bocah Gundul Pindah Hunian

Kisah itu berlalu, entah setahun atau dua tahun. Suatu malam, saya mencuci piring gelas di rumah. Malam hari. Biasanya, saya membuang sisa teh kopi itu di sungai dekat terowongan itu. Namun malam itu ada yang aneh. Saya memang tidak merasakan firasat apapun. Namun benar-benar aneh. Pipa air minum yang terhubung antara bawah jalan raya dan rumah bapak ibu, sepanjang kira-kira 7 meter, sedang dipakai mainan anak-anak kecil. Makin anehnya karena, kok bisa, ada anak bermain di bawah terowongan seperti itu, di kegelapan malam, yang turun ke sana pun orang dewasa bisa butuh usaha keras.

Keanehan makin kerasa ketika pipa air minum yang biasanya gampang bergoyang itu, tidak bergoyang sama sekali. Ada yang tidak beres. Saya coba lihat kembali. Iya, tiga orang anak gundul. Mereka bermain-main.. Saya ucek-ucek mata... dan picingkan mata karena silau oleh lampu atas jalan, sementara mereka ada di dalam gelap.

Setan Gundul (ilustrasi dibangkitkan oleh Bing AI)


Kemudian saya tanya ibu : "Bu, itu ada anak main-main di sana". Ibu dengan semangat melihat. Dan berkata : "Biarkan saja, itu berarti pindah rumah?". Pikiran saya nggak enak.. "Pindah rumah pripun buk??"

Ibu berkata : "Itu dulu yang menempati pohon pepaya. Pohon pepayanya hancur kena bledheg, sekarang mereka pindah ke bawah terowongan. Biarkan saja, mereka tidak mengganggu. Biarkan di bawah terowongan mereka tidak akan terganggu siapa-siapa"


Sampai sekarang, saya tidak melihat lagi mereka main-main. Tapi saya juga berharap tidak bertemu, melihat mereka, ataupun saling terganggu. Alam kita berbeda. Jika mereka memang nyaman di sana, ya biarlah mereka nyaman.

Tapi malah sekarang, saya masih berharap, hantu, jin itu benar-benar ada ada. Mereka bisa menjaga alam, bisa mempertahankan diri dari keserakahan manusia. Saya ingin hutan-hutan tersisa itu bisa dilestarikan mereka. Tapi sayang, mereka ini juga terdesak oleh keserakahan. Sialnya lagi, banyak orang berburu hantu untuk konten. Mereka pun dijadikan komoditas. Komersialisasi oleh manusia... Atau bahkan sedihnya, saya berpikiran, semua hal aneh yang saya lihat itu sebenarnya wajar adanya, dan bukan hal mistik. Tapi lebih ke psikologis manusia. Saya justru sekarang merasa takut, bahwa hantu, jin itu tidak ada. Mitos belaka. Buktinya, alam hancur, hutan Kalimantan yang dirusak oligarki, mereka tak melawannya.. 


Sedih




Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIPS: Memasang Peta Google di Blog atau Web

Bagaimana cara memasang Peta Google di blog dan web? Seringkali kita melihat peta yang aktif dalam blog seseorang. Tentu kadang kita ingin juga memasang lokasi kita di peta dan dipasang di blog kita sendiri. Ternyata segala macam caranya telah disediakan oleh Google untuk mempermudah kita memasang peta berbasis Google. Lebih dari itu peta google ternyata dapat dipilih sedemikian hingga peta yang ditampilkan dapat berbagai macam format. Seperti Satellite, RoadMap, Terrain dan sebagainya. Lantas bagaimana caranya? Urutan singkat menggunakan peta google adalah sebagai berikut: Melakukan paste script yang membawa pemanggilan fasilitas Google Map Melakukan pemilihan script controller yang disediakan Google untuk membentuk locator peta. Jika anda seorang programmer, tentu lebih asyik lagi Menentukan LETAK peta tersebut pada blog kita, dengan nama elemen tertentu yang sama dengan yang diminta google. Untuk proses nomer pertama, melakukan paste script google map sebaiknya kita...

"Penegak Hukum Jalan Raya" - Profesi IDIOT

Polisi Lalu Lintas, DLLAJR, tentunya seharusnya bertanggung jawab terhadap banyak kejadian terjadi di jalan raya. Tugas mereka tidak ringan. Diantara tugas-tugas tersebut beberapa diantaranya adalah memelihara kondisi jalan raya, menegakkan hukum jalan raya, menyediakan fasilitas-fasilitas, dan lain sebagainya. Sebentar, sebelum para idiot ingin menyangkal tulisan ini, lebih baik baca dulu Undang-Undang Lalu Lintas tahun 2009. Undang-undang itu juga digunakan untuk pihak pemerintah melalui penegak hukumnya. Lihat saja pada poin ini saja: Pasal 125 Pengemudi Kendaraan Bermotor angkutan barang wajib menggunakan jaringan jalan sesuai dengan kelas jalan yang ditentukan. Selanjutnya bisakah kita melihat ini?             Kewajiban Pemerintah           Pasal 213 (1) Pemerintah wajib mengawasi kepatuhan Pengguna Jalan     untuk menjaga      kelest...

ICU

Malam itu saya masih mondar-mandir dekat ruang tunggu ICU sebuah Rumah Sakit di kota kami. Setenang-tenang menjaga keluarga yang sakit di ruang perawatan khusus memang tidak ada yang enak. Masih berpikir tentang setelah sembuh apa yang harus dilakukan agar yang sekarang sakit menjadi sehat kembali, berpikir juga tentang pekerjaan yang terbengkalai, berpikir juga biaya, dan hal-hal yang terjadi berhubungan akibat dengan adanya sakit tersebut. Sekonyong-konyong muncul sebuah tandu dorong yang sedang berisi orang sakit, masuk ke ruang ICU dengan peralatan infus dan lain sebagainya. Sepertinya seorang wanita. Tandu didorong oleh tiga orang lelaki berseragam operasi, dan dipandu seorang wanita yang juga masih menggunakan masker operasi. Tandu didorong masuk ruangan, dan seorang laki-laki bermasker tadi meminta keluarga berhenti pada batas ruangan, meminta agar keluarga tidak memasuki ruangan ICU lebih dulu. Wajah tegang dan gelisah terlihat di wajah para anggota keluarga. Ada sekit...