Langsung ke konten utama

Selamat Jalan, Keluarga Depan Rumah....

Covid-19 benar-benar luar biasa. Tak pernah saya sangka, kita masuk dalam generasi yang harus ketemu dengan wabah super ini. Korbannya tak tanggung-tanggung. Hari ini, kasus Indonesia ada 36 ribu lebih kasus harian. Angka kesembuhan harian baru di angka 32 ribu, masih tomboh 4 ribuan yang kecatat. Rumah sakit terpantau penuh di pulau Jawa. Sering terdengar suara pengumuman meninggal lewat pengumuman masjid.. 

Sosial media dipenuhi kata "Innalillahi", "RIP", "Permohonan darah konvalesen", "Permohonan tabung oksigen", "Permohonan info rumah sakit".  Hingga pada akhirnya, beberapa orang dalam lingkaran yang kita kenal dekat, yang kita harapkan kehidupannya, mereka akhirnya meninggal. Kita tidak dapat melayat, tidak dapat ditunggui juga, karena dicegah dengan protokol kesehatan. Mereka syahid. Kita makin nggrantes lagi dengan wafatnya para nakes. Andalan kita. 

Hari ini, saya mendapatkan kabar duka cita dari kerabat di Wonosobo. Yaitu keluarga bu Abdullah. Beberapa waktu lalu, keluarga ini terkena Covid, dan mengakibatkan seluruh anggota keluarga harus dirawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Wonosobo. Ini keluarga bukan keluarga sembarangan. Ini keluarga yang tinggal depan rumah ibu. Bagi saya, keluarga ini adalah keluarga yang berjasa bagi keluarga kami. Setiap keluarga kami punya acara, atau setiap lebaran, atau ketika kami datang, Kak Abud beserta istrinya selalu datang ke rumah. Mereka statusnya lebih tua lho. Mas Abud selalu datang dengan senyum dan sapaan yang hangat. Tidak banyak cakap, lebih ke merespon apa yang kita katakan. Bu Abdullah, adalah orang yang berjasa bagi keluarga kami. Beliau juga yang sempat mengajari sholat ibu saya. Beliau juga seorang yang bertutur bahasa lembut dan sangat baik dalam bahasa Jawa halus.

Hari kemarin mbak Duriyah, kakak mas Abud meninggal akibat covid. Hari ini mas Abud, meninggal pagi , dan disusul ibunya, sore hari. Saya menyaksikan, mereka adalah orang-orang baik dan berjasa. Saya meyakini, mereka syahid, husnul khatimah, dan mendapatkan tempat indah di sisi Allah. Jikapun jasad mereka mati, mereka tetap hidup. Semangat mereka, dan hasil karya mereka yang telah menjadi penghidupan orang lain.

Saya mendapatkan share dari group, sebuah untaian kata-kata dari bapak Saat Suharto Amjad, Ketua Pengurus KSPPS BMT TAMZIS BINA UTAMA. Saya matur nuwun sekali, tulisan ini membuka kisah-kisah kak Abud, yang inspiratif dan jiwanya memang untuk kemanusiaan dan sosial.



===

Pak Abud, Sang Penghamba


Persahabatan kami dipertautkan karena persahabatan ayahanda-ayahanda kami. Pak Yahya, pak Abdullah Baasyir, pak Sulaiman dan Ayahanda Ahmad Amjad yang rutin bersama mengkaji kitab di Toko Kitab Sabar. Sehingga ketika kami merintis usaha dan memutuskan tinggal di Wonosobo maka persahabatan karena birrul walidain itu tertaut. 


Seluruh perjalanan hidup Pak Abud saya menyaksikan adalah sepenuh penghambaannya kepada Allah. 


Ketika pasar Wonosobo terbakar dan dia adalah ketua paguyuban pedagang pasar induk, maka hatinya terusik tatkala ada ketidak adilan, maka beliau dan kawan kawan di paguyuban menghubungi LKBH UII yang waktu itu pak Artidjo Alkostar dan Pak Busro Muqoddas turun langsung mengadvokasi dan akhirnya paguyuban memenangkan kasus tersebut. 


Kami juga menyaksikan kiprah nya yang luar biasa tatkala beliau menjadi sekretaris PAN, dengan sepenuh hati dan jiwa serta tidak sedikit harta yang dikeluarkan untuk pendirian partai itu di Wonosobo. Masih terbayang rasanya mencari seragam, menginisiasi di tiap kecamatan, insyaAllah saya menyaksikan keikhlasan, lillah dalam kami berjuang bersama. 


Demikian pula waktu kami menugaskan beliau menjadi anggota DPRD Wonosobo, integritas, pembelaan dalam fungsi fungsi legislasi dan anggaran sungguh menjadi legasi dan dikenal oleh para kolega koleganya serta para eksekutif di Wonosobo. Sampai suatu ketika beliau meminta ijin untuk tidak berkiprah lagi di dewan, karena hatinya yang gundah dan terutama karena Uminya (Hj. Zubaidah) tidak lagi memberikan ijin. 


Terhadap Uminya ini tentu Pak Abud tidak akan berani melanggar karena selain beliau dikenal lembut dengan keluarganya tapi yang sangat menonjol adalah kecintaan dan ketaatan kepada Umi yang memang bukan hanya Umi bagi keluarga tapi juga umi bagi kami Muhammadiyah Wonosobo, terutama Aisyiyah Wonosobo. Mobil pregio yang sengaja dibeli untuk aktivitas Umi dan Aisyiyah Wonosobo. Nah, kapanpun Umi ada agenda maka dipastikan pak Abud akan mengantarkan atau ada orang yang dipercaya untuk mengantarkan. 


Beliau juga anggota Tamzis, kendati bukanlah pengurus Tamzis tapi para insan Tamzis kadang kadang tersilap merasa beliau adalah salah satu pengurus, saking saking perhatiannya yang tinggi terhadap Tamzis. 


Akan tetapi, legacy terbesar beliau adalah Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Wonosobo. Beliau lah yang mengkomunikasikan kepada seluruh stake holders, para eksekutif polecy maker di Wonosobo dan memungkinkan perijinan berjalan, bukan hanya itu beliau pula lah orang yang sanggup duduk bersama masyarakat untuk menemukan solusi terbaik sehingga bukan saja tidak mendapatkan hambatan tapi justru di dukung sepenuhnya oleh masyarakat Sudungdewo dimana PKU Muhammadiyah Wonosobo berada. 


Beliau pulalah yang bersama Pak Sholeh Yahya bersikeras untuk mengembangkan PKU sehingga awalnya sederhana menjadi sedemikan besarnya, bahkan beliau telah siapkan pula semua persiapan yang diperlukan untuk pengembangan berikutnya dari Rumah Sakit. Selain terkenal perfect dan detilnya dalam bekerja, beliau juga selalu berorientasi pada mutu. Pokoknya semua bangunan, material dan pengerjaan nomer satu, semua sarana prasarana di ujinya sendiri dan harus nomer satu. Maka, tidak ada satu bata yang tertata di RS PKU yang tidak menyaksikan betapa pak Abud membangunnya dengan penuh cinta. Tidak ada insan PKU yang tidak merasakan legacy beliau terhadap orientasi pada mutu dan pelayanan prima. 


Maka, Ya Allah ya Rahman ya Rahiem kami melepas Pak Abud hari ini untuk kembali kepada Mu, innalillahi wa Inna ilaihi rojiun. Semua dariMu ya Allah dan akan kembali kepada Mu. Hamba bersaksi bahwa Pak Abud adalah seorang penghamba yang mendedikasikan hidup nya sebagai hamba sebagai Abid, sebagaimana namanya. Ampunilah dosa sahabatku ini, saudaraku ini ya Allah. Terimalah penghambaannya lipatkanlah ganjaran amal sholihnya. Kuatkan sabarkan keluarga nya. Jadikan mereka sebagai penghamba sebagaimana atau lebih dari orang tuanya. 

Hari ini kami BPH, Direksi PKU Muhammadiyah Wonosobo melepas pak Abud dengan keyakinan bahwa semua pondasi yang telah pak Abud tanam akan berbuah kebaikan yang lebih besar. Semoga kami semua insan PKU mampu mewujudkan cita cita beliau tersebut. Amin


Saat Suharto Amjad

===


Salah satu yang saya ingat banget tentang kak Abud adalah, suatu malam yang larut di tahun 1999, ada bentrokan antara PPP dan PKB di depan rumah kami. Bapak meminta agar kita segera mematikan lampu. Semua tetangga juga melakukan demikian. Puluhan orang, dari kedua belah pihak membawa senjata tajam, senjata keras dan juga batu. Suara pedang yang diseret di aspal jalan membuat suasana makin seram. 

Saat itu PPP dipukul mundur hingga mendekati jembatan Brug Menceng. Pemuda PKB tidak melanjutkan mengejar. Mereka kembali bertahan dekat rumah kami. Tak disangka, mas Abud keluar, membawa tikar cukup banyak. Mereka meminta anak-anak PKB masuk di halaman rumahnya, agar tidak menghalangi jalan, katanya. Di sana juga disediakan sekadar air minum. Beberapa saat, anak-anak PKB ini kembali ke kampung masing-masing. Pedang mereka simpan mereka berjalan kaki dengan tertib.

Itu satu kenangan yang masih saya ingat.

Tidak banyak yang bisa saya tambahkan.. Hanya ungkapan selamat jalan. Bangunan Rumah Sakit yang kak Abud perjuangkan, telah menjadi saksi bisu kondurnya kak Abud ke Allah SWT. Saya iri dengan orang yang amalnya tetap berjalan meskipun jasadnya telah mati. 

Hari ini saya nyesek sekali, mungkin malah lebih nyesek dari pada ketika bapak saya meninggal. Saya tidak bisa ke Wonosobo, saya hanya bisa berdoa, shalat ghaib, dan menuliskan tulisan ini. Rupanya gusti Allah lebih mencintai kak Abud, bu Dullah dan mbak Duriah. Manusia hanya bisa menerima.

 Sugeng tindak kak Abud, bu Dullah, mbak Duriyah... Insya Allah husnul khatimah. Semoga Allah berkenan menyingkirkan pandemi ini dari muka bumi, semua sehat... Semoga yang sakit segera disembuhkan, yang sehat juga diberikan kekuatan untuk menjadi orang berguna.. 

Saya tidak posting foto kak Abud dan keluarga ya... Cukup gambar rumah yang saya ambil di Google Maps. Saya takziah virtual dulu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ICU

Malam itu saya masih mondar-mandir dekat ruang tunggu ICU sebuah Rumah Sakit di kota kami. Setenang-tenang menjaga keluarga yang sakit di ruang perawatan khusus memang tidak ada yang enak. Masih berpikir tentang setelah sembuh apa yang harus dilakukan agar yang sekarang sakit menjadi sehat kembali, berpikir juga tentang pekerjaan yang terbengkalai, berpikir juga biaya, dan hal-hal yang terjadi berhubungan akibat dengan adanya sakit tersebut. Sekonyong-konyong muncul sebuah tandu dorong yang sedang berisi orang sakit, masuk ke ruang ICU dengan peralatan infus dan lain sebagainya. Sepertinya seorang wanita. Tandu didorong oleh tiga orang lelaki berseragam operasi, dan dipandu seorang wanita yang juga masih menggunakan masker operasi. Tandu didorong masuk ruangan, dan seorang laki-laki bermasker tadi meminta keluarga berhenti pada batas ruangan, meminta agar keluarga tidak memasuki ruangan ICU lebih dulu. Wajah tegang dan gelisah terlihat di wajah para anggota keluarga. Ada sekit

Gitar, Harmonika dan Saya

Catatan ini saya sadur ulang dari tulisan notes facebook saya di : https://web.facebook.com/notes/wahyu-bimo-sukarno/gitar-harmonika-dan-saya/1168026233241917/  Ada bagian yang saya tambahi, ada bagian yang saya kurangi. Saat membaca lagi beberapa catatan lama di Facebook, beberapa catatan membawa kembali saya ke masa itu. Masa yang membawa saya hingga menjadi seperti ini. Dalam ajaran Jawa ada quote : " Aja lali sangkan paraning dumadi ". Jangan kau melupakan asal-usul kejadianmu. Baik kejadian kehidupan, maupun kesuksesan. Berikut nukilan Facebok saya tahun 2016 itu.

Bandara Hasanuddin dan Gadis Kecil dengan Nada Mutlak...

Kisah berkesan ini terjadi di Bandara Hasanuddin Makassar, tahun 2016. Beberapa kali berada di Bandara ini selalu ada kesan yang tak terlupa. Saya pernah tertidur di sana karena connecting-time yang sangat panjang akibat delay pesawat menuju Jogja. Saking seringnya bersendiri di Bandara itu, saya sampai apal motif atap khas Bandara Sultan Hasanuddin. Dulu, bandara ini adalah bandara terbaik se-Indonesia. Sebelum akhirnya proyek-proyek infrastruktur Pak Jokowi membuat keindahan bandara ini memiliki saingan yang sangat banyak.  Hari itu, masih di bulan Ramadan tahun Masehi 2016, saya dapat perjalanan yang insidensial. Saya terpaksa berangkat karena ada satu insiden di salah satu rekanan di Manokwari. Saat hari keberangkatan ke Manokwari saya senang sekali. Karena saya akhirnya dapat berkunjung kembali ke Papua. Meskipun pakai Lion Air, tak ada delay sama sekali sampai Manokwari. Jogja - Surabaya - Makassar - Ambon - Manokwari. Saya juga senang karena saat di bandara Surabaya, saya diaja