Langsung ke konten utama

Cerita Hutan dan Omnibus Law



Pernah menonton film Maleficent, atau tentang peri, jin, penyihir yang tinggal di hutan? Pernahkah mendengar mitos-mitos daerah kita masing-masing tentang pohon hebat ? "Jangan memotong pohon di mata air, nanti kesambet", adalah kata yang sering didengar terucap oleh orang-orang lama. 

Sering melihat pohon keramat, atau pohon-pohon yang dibalut dengan selendang? Atau sebaran pincukan bunga sesaji di perempatan dekat mata air atau hutan? Bagian ini sampai sekarang masih ada.

Waktu di Asmat dulu, saya juga diperingatkan agar untuk tidak ke suatu tempat. "Jangan ke sana, itu tempat keramat. Hutan rawa yang tak seorangpun boleh ke sana". Memperingatkannya pun sambil berbisik, seolah memang jangan sampai ketahuan sesuatu yang ghaib.

Hutan pinggir Asmat

Hutan pinggiran kota Agats, Asmat


Cerita tentang hutan dan pohon itu ada di mana-mana. Orang dulu ternyata sangat pintar. Mereka sudah tahu lebih dulu, apa akibatnya jika kita merusak hutan, pohon ataupun kelestarian alam.


Maleficent forest 


Cerita teman-teman dari pulau lain, Kalimantan, Nusa Tenggara, atau Sulawesi misal, mereka bercerita, bahwa dalam sebuah kampung adat, pasti akan ada beberapa hektar hutan adat/hutan induk, yang tak seorangpun boleh ke sana. Siapapun. Mau ada pohon tumbang atau binatang berkelahi di sana, manusia tidak boleh ke sana.

Di luar hutan itu, ada hutan perburuan. Hutan yang manusia boleh masuk untuk mencari kayu (tapi bukan memotong), berburu, ataupun mengambil buah hutan. Di luarnya lagi ada hutan rakyat. Di sana orang boleh memotong, boleh menanam kopi, teh atau bahkan meletakkan ternak lebah madu di sana. Tentu kopi hutan, madu hutan, dan tumbuhan hutan lainnya. Di luarnya lagi, adalah daerah pertanian. Konsep transmigrasi dulu, transmigran akan diletakkan di daerah pertanian ini. 

Di kampung-kampung adat itu, mereka meyakini (dan memang benar sih), alam masih akan bersahabat dengan manusia, selama hutan adat itu tidak rusak. Binatang-binatang yang takut pada manusia tetap akan memiliki ruang untuk mereka. Tumbuhan dan hewan semua masih akan terpelihara di sana. 
Silakan yang berasal dari daerah yang masih banyak hutan-hutan alami seperti ini untuk bercerita...

Belakangan ini kita dengar isu global warming. Iklim, cuaca, berubah dari kebiasaan. Perubahan juga bisa terjadi mendadak dan sangat ekstrim yang berbahaya bagi kesehatan. Garengpung, binatang penanda hari cerah sudah mulai bingung. Instingnya bilang hari cerah, dia memberi tanda, eh ternyata hujan badai. Potensi bencana alam karena banjir dan longsor juga makin tinggi. Konflik manusia dengan binatang juga tinggi. Binatang merasa tersudut ruangnya, menyerang manusia, manusia membalas dengan pemusnahan binatang. Manusia memang hama yang sesungguhnya.

Saya juga dengar sebuah isu, bahwa kelak next pandemi berasal dari hutan Amazon. Hutan Amazon memang sedang mengalami deforestasi besar-besaran. Saya juga meyakini bahwa virus, pandemi itu bukan buatan manusia, tapi disebabkan oleh manusia. Manusia merambah habitat dan ekosistem mereka, mereka mati. Yang kuat akan bermutasi karena seleksi alam, mereka mencari habitat yang paling mudah : tubuh manusia. Entah manusia kuat atau tidak. Jika mereka cocok dan manusia kuat, ya sudah mereka punya habitat baru. Tapi jika manusia tidak kuat, ya kayak sekarang ini, Covid-19. Boleh kita tengok, bahwa hampir semua virus pandemik itu berasal dari binatang. Jadi seberapa banyak hutan dibuka, penyakit baru akan segera muncul.

Belakangan ini juga, kita dengar berita, konflik "pemerintah" dengan masyarakat adat dalam mempertahankan hutannya, makin tinggi. Pemerintah, datang dengan merasa "seolah simbiose mutualisme", namun sebenarnya yang terjadi adalah parasitisme. Masyarakat dijanjikan dibuka lahannya dengan traktor, lahannya dijadikan tempat kerja, entah pabrik atau perkebunan sawit, lantas orang adat bisa bekerja di situ dengan gaji yang bagus. Bagi masyarakat yang merasa "modern" dan mengikuti alur pikiran pemerintah, akan menerima. Namun orang-orang yang taat pada kecerdasan adat dan kearifan lokal bawaan moyang, akan menolak. Sayangnya orang-orang terakhir ini kalah.

Saya tidak terlalu khawatir dengan bab-bab ketenagakerjaan pada UU Cipta Kerja. Saya sangat khawatir justru dengan isu lingkungan. Konflik agraria antara pemerintah (korporasi) dengan rakyat akan semakin tinggi. Pembukaan hutan akan semakin ugal-ugalan. Banjir bandang akan menjadi ancaman yang dibuat manusia sendiri. Kebakaran hutan, dan global warming akan semakin sering frekuensi isunya.

Pola pikir Jakarta diterapkan besar-besaran di penjuru negeri. Mereka melihat tempat alami, langsung memprospek menjadi tempat wisata, tempat makan, atau investasi dalam bentuk usaha lain. Atau bahkan membuka lahan untuk industri atau perkebunan. Mereka berpikir bahwa masyarakat perlu gaji. Sementara masyarakat kampung terpencil sering kali tidak membutuhkan hal itu. 

Saya berharap, bahwa setan-setan dalam mitos, peri atau jin penunggu hutan, tukang sihir yang menjaga hutan itu benar-benar ada dan selalu menang terhadap keserakahan. Kalaupun ada, toh ini selama ini kisahnya kalah sama teknologi. 

Akhir-akhir ini muncullah berita sebuah perusahaan gabungan Korea Selatan - Indonesia, melakukan pembakaran hutan di kawasan Papua, di kabupaten Merauke. Luas daerah yang dibakar adalah seluas kota Seoul. Atau kalau di Jawa ya seluas kabupaten Klaten. Hutan itu dibakar, lantas akan disiapkan sebagai lahan sawit. Ganti rugi yang diberikan adalah Rp 100.000,00 perhektar. Jika omnibuslaw berjalan, ini berita celaka bagi. Sanksi yang semula pidana hanya akan jadi sanksi administratif (tapi entah apakah ini sudah ganti belum, karena omnibuslaw selalu berganti-ganti halaman dan diedit-edit hingga ke substansinya). Celakanya lagi, jika pemerintah sudah menetapkan bahwa proyek itu merupakan proyek strategis nasional. Masyarakat hanya akan meringis gigit jari. Masyarakat yang menempati sana, pastinya dianggap akan kalah karena tidak memiliki sertifikat. Pemerintah beranggapan bahwa datangnya perusahaan akan menolong masyarakat memiliki gaji. Sepertinya 'pesan jakarta' masih terlalu kental dan kurang melihat ke lapangan. Bahwa dengan cara itu membuat orang menjadi budak korporasi. Sifat alamiah manusia dipaksakan diri menjadi sifat budak yang harus mengikuti cara pemerintah yang cenderung menurut pada korporasi.

Ah entah, apakah kita akan pasrah dan ...please wait until the nature will strike back...

Saya berharap bahwa para hantu, nenek sihir penguasa hutan itu benar-benar ada dan adil. Saya berharap bahwa mereka itu benar-benar ada dan kelak akan menang. Mungkin Einstein pernah berharap, atau bahkan memprediksi hal itu. Dia berkata "saya tidak tahu perang dunia ketiga menggunakan senjata apa, namun perang dunia keempat akan menggunakan batu dan kayu"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelamun Tak Pernah Secengeng Yang Kau Kira

  Kunyanyikan beberapa potong lagu, selang-seling irama bahagia dan irama sendu. Tiba-tiba datang dirimu, yang berkata : " Hai kau, ada apa dengan dirimu, melamun diri di bawah awan kelabu? ". Sambil tersenyum geli, kulanjut laguku. Tapi kau terus memburu. " Ada apa dirimu? Apakah dalam tekanan kalbu? Atau kau dilanda rindu? Ceritakan padaku! Aku perlu tahu.. Jangan sampai nanti kau terlambat sesali dirimu " Aku coba berganti irama. Irama riang irama bahagia. Tetapi otakmu terlalu dalam berkelana. Sehingga asumsimu sesat karenanya. Ah, aku peduli apa?  Hai.. Terima kasih pedulimu. Aku tak sedang berduka. Aku tak sedang merindu. Aku tak sedang seperti apa yang ada di benakmu. Aku berdendang bernyanyi, menghibur diri. Aku bukan siapapun. Tak usah kau kulik apa yang ada di dalam diriku. Aku bukan siapapun. Aku bukan sedang menyanyikan kecengengan. Aku bukan apa yang terjadi pada diriku. Aku adalah apa yang terjadi yang kupilih. Kenangan Ramadan 2023...

Simpanan Gambar, dan Pesan Untuk Masa Depan

Gambar ini saya ambi di bulan Juli 2018, di pesawahan jalan Kronggahan, Sleman, DIY. Tepatnya di seberang kantor Stasiun Pemantauan Cuaca BMKG. Saya membatin, apakah 10 tahun ke depan pemandangan senja ini bisa didapatkan generasi setelah saya? Tak butuh 10 tahun. Pemerintah lebih suka melebarkan jalan, mengalahkan sebagian sawah, agar dapat membuang arus lalu lintas yang padat daerah Denggung. Namun tetap saja, Denggung macet, jalan Kronggahan juga macet. Sawah kalah, dibanguni kafe dan perumahan/pemukiman yang mulai ada. Tidak hanya tempat ini tentunya. Banyak tempat lain yang bakal hilang.  Kelak saya akan post lagi kisah seperti ini. Agar anak cucu tahu, dulu mudah sekali dapat tempat dan pemandangan semewah ini. Atau entah mungkin anak cucu lebih suka pemandangan kemacetan atau hingar bingar...

Selamat Jalan, Keluarga Depan Rumah....

Covid-19 benar-benar luar biasa. Tak pernah saya sangka, kita masuk dalam generasi yang harus ketemu dengan wabah super ini. Korbannya tak tanggung-tanggung. Hari ini, kasus Indonesia ada 36 ribu lebih kasus harian. Angka kesembuhan harian baru di angka 32 ribu, masih tomboh 4 ribuan yang kecatat. Rumah sakit terpantau penuh di pulau Jawa. Sering terdengar suara pengumuman meninggal lewat pengumuman masjid..  Sosial media dipenuhi kata "Innalillahi", "RIP", "Permohonan darah konvalesen", "Permohonan tabung oksigen", "Permohonan info rumah sakit".  Hingga pada akhirnya, beberapa orang dalam lingkaran yang kita kenal dekat, yang kita harapkan kehidupannya, mereka akhirnya meninggal. Kita tidak dapat melayat, tidak dapat ditunggui juga, karena dicegah dengan protokol kesehatan. Mereka syahid. Kita makin nggrantes lagi dengan wafatnya para nakes. Andalan kita.  Hari ini, saya mendapatkan kabar duka cita dari kerabat di Wonosobo. Yaitu kelua