Gitar, Harmonika dan Saya


Catatan ini saya sadur ulang dari tulisan notes facebook saya di : https://web.facebook.com/notes/wahyu-bimo-sukarno/gitar-harmonika-dan-saya/1168026233241917/ 

Ada bagian yang saya tambahi, ada bagian yang saya kurangi. Saat membaca lagi beberapa catatan lama di Facebook, beberapa catatan membawa kembali saya ke masa itu. Masa yang membawa saya hingga menjadi seperti ini. Dalam ajaran Jawa ada quote : "Aja lali sangkan paraning dumadi". Jangan kau melupakan asal-usul kejadianmu. Baik kejadian kehidupan, maupun kesuksesan. Berikut nukilan Facebok saya tahun 2016 itu.


===

Beberapa pekan lalu saya membeli gitar murahan, setelah beberapa bulan sebelumnya membeli sebuah harmonika murahan juga. Selain alat-alat ini monumental, alat-alat ini sanggup mengurangi jam “screen eye” saya. Saya juga ingin mulai mengenalkan alat musik pada anak saya, supaya, meskipun tidak jago-jago amat, setidaknya mengenalnya, setidaknya seperti bapaknya. Lumayan saya yang sekian lama tidak pegang alat musik lagi, bisa menikmatinya di rumah.


Monumental. Alat-alat musik ini bagi saya monumental. Saya merasa beruntung menikmati fasilitas pendidikan musik yang lumayan unggul di kota kami. Saya bersekolah di sekolah dasar yayasan Katolik yang masa itu unggul bidang musiknya. Di sana saya dikenalkan dengan alat-alat musik mulai yang bernada (chromatic, diatonic, pentatonic), hingga alat berjenis perkusi. Saya juga dikenalkan dengan ensemble music, campuran-campuran alat musik dari suling, kendang, pianika dan lain sebagainya sejak kecil. Saya juga dikenalkan dengan not balok sejak SD (meski sekarang lupa). Di sana bermain-main diutamakan. Bermain alat musik adalah salah satunya. Alat musik yang benar-benar pelajari pertama adalah perangkat gamelan di kelas 3 SD. Mulai dari Gong, Kempul, Kendang di jaman SD. Sedangkan masa SMP saya sudah berani bermain bonang untuk sendratari pentas seni di SMP saya. Alat musik non-tradisional pertama kali saya pelajari adalah “suling recorder”. Pelajaran itu ada di kelas 3 SD. Saat itu saya juga mulai kenal dengan ensemble. 


Monumental. Saya dulu pengin sekali bisa bermain gitar. Saking kepenginnya, dan saya tidak pernah berani meminta pada orang tua, malu meminjam,  saya pun memilih “menghibur diri” dengan belajar di perpustakaan kota Wonosobo. Mencari buku-buku gitar yang bukan buku biasa, tapi lebih ke pelajaran musik gitar klasik asli. Saya pinjam buku-buku itu, saya bawa ke rumah, dan menuliskannya di buku tulis. Saya ingat sekali yang saya tulis adalah, partitur not balok, letak-letak pitch krip/fret gitar, posisi jari tangan, posisi duduk gitar klasik, posisi tumpuan lutut, sudut miring gitar. Teknik dasar seperti pulling, bending, hammering, sliding, chord racking, hingga arpeggio, saya pelajari lebih dulu sebelum saya benar-benar pernah memegang gitar. Saya hanya membayangkan dan pura-pura memainkannya dengan tangan saya. Hingga akhirnya saya cuma berani meminjam gitar, saya terapkan apa yang sudah ‘muntup-muntup’ di kepala. Beberapa teman yang mendapat fasilitas gitar dari orang tuanya, saya menggilir pinjam mereka 😅 . Ternyata imajinasi tentang alat musik itu sangat berguna mempercepat saya bisa memainkannya, saat benar-benar memegangnya.
Di masa SMP jugalah saya belajar harmonika, tanpa seorangpun guru, dengan harmonika pinjaman. Saya analisa sendiri nadanya, saya coba buat irama sendiri, menirukan bagian depan lagu OST Kartun The Lone Ranger garapan Hans Zimmer. Lumayan. Saya masih mengingat saat pentas seni di event Pramuka, saya memainkannya untuk lagu-lagu Iwan Fals yang digitari oleh teman saya. Saya juga belajar dengan cara mencuri-curi waktu di malam hari agar tidak mengganggu bapak ibu yang sedang istirahat. Ya, saya tidak sepenuhnya didukung mempelajari alat-alat musik ini. Apalagi orang tua jaman dulu mengutamakan pelajaran formal selain seni untuk bekal kehidupan anaknya.


Monumental. Saya belajar otodidak, mendengarkan dan meniru. Kadang saya berusaha bermain idealis di classic, ibu jari tak kelihatan, posisi duduk dan lain sebagainya, sehingga akhirnya cukup berat dan kepontal-pontal mengikuti cara teman-teman yang bebas, tanpa aturan apapun, menirukan musik-musik rock dan metal. Akhirnya permainan saya mengikuti cara sendiri, melakukan rearansemen sendiri sebuah lagu yang harus saya mainkan, dengan aturan baku dan teknik yang saya kembangkan sendiri. 


Monumental. Menyedihkan, mengingat seorang teman saya jaman SMA. Dia membutuhkan uang untuk bisa masuk kuliah yang berikatan dinas. Ya, kami faham bahwa dia membutuhkan sekolah gratis atau murah biaya karena kondisi keuangan keluarganya yang mepet. Saat itu dia menjual gitar rusaknya, pada saya seharga Rp.10.000,00. Saat itu saya hanya punya uang simpanan Rp.8000,00. Diapun memaksa : “Ya wis semono wae, nggo tambah-tambah uang pendaftaran”. Akhirnya sayapun melepaskan uang itu untuk ditukar dengan gitar jebol itu parah itu. Sisi belakangnya sudah semplak terbuka, sedangkan bodi pinggir juga sudah sobek dan bolong. Saya membeli karena ketidaktegaan. Saya cari lem kayu, saya perbaiki, saya belikan string dan voila! Inilah alat musik saya yang pertama. Belakangan saya makin sedih ketika teman saya ternyata tidak diterima di Akmil. Meskipun dia akhirnya diterima dengan sukses di STAN.


Monumental, tantangan-tantangan belajar musik ini. Karena saya harus terhenti beberapa lama karena beberapa momen. Pertama adalah karena saya memang sering tidak terfasilitasi alat meskipun sekedar pinjaman. Kedua adalah saya sempat mengikuti suatu keyakinan yang akhirnya saya meninggalkan alat ini jauh-jauh. Namun seiring dengan pengetahuan dan berkembangnya waktu, saya memilih mengenal kembali. Ketiga adalah masa bekerja. Cukup lama rasanya saya tidak mengenal alat musik di masa setelah bekerja ini. Saya hanya mendengarkan lagu-lagu lama yang memang terbukti kualitas skill permainan para musisinya. 

Di bulan Ramadan kemarin saya membeli sebuah diatonic harmonica yang murah dengan 24 hole. Harganya 48 ribu. Jadi 1 hole 2 ribu. Hahaha. Di hadapan penjual saya bilang :”Mbak, saya boleh mencoba?” “Boleh, tetapi kalau oke harus dibeli”. Saya paham, karena dari mulut banyak tersebar penyakit. Saat itu saya memainkan bagian depan lagu Blue Danube Waltz, yang mudah untuk harmonika. Senang sekali, saya masih sedikit memiliki ‘feel’ nya. Lagu itu belum pernah saya mainkan dengan harmonika. Saya beli, lumayan untuk mainan anak-anak dan hiburan pribadi di kala malam sepi. Ternyata, dengan membeli barang kenangan, dan memainkannya, syaraf-syaraf otak kita ini membuka kembali kenangan-kenangan yang terlupa, yang hilang bersama dengan saat kita meninggalkan benda itu.

Beberapa pekan lalu saya juga membeli sebuah gitar yang murah di pasar shopping Salatiga. Saya pilih string yang lunak agar stang tidak cepet bengkok, dan bisa buat main anak-anak. Mungkin, saya tidak akan memaksakan anak-anak agar bisa bermain musik seperti keluarga Jelly Tobing atau Bubby Chen. Tapi setidaknya dapat sedikit menggali kira-kira bakat anak akan kemana. Karena kadang memang kita tidak tahu bakat anak, dan kita tidak memberikan fasilitas pada mereka. 

Apa maksud posting ini? Posting ini sebatas sebuah motivasi. Dengan membeli barang-barang berkenang itu, syaraf saya jadi terbuka, sebenarnya permasalahan utama kita bukanlah pada fasilitas yang ada. Namun kemauan. Kadang sedih membayangkan kisah masa lalu saat saya harus tiap hari menulis akor fret gitar pada buku, tanpa memiliki barangnya. Namun saya juga masih ingat bahwa saya justru menjadi mengajari siapa yang meminjami saya. Kehidupan saya agak lekat dengan jenis-jenis seperti itu. Tanpa harus ada fasilitas, namun bisa karena mau. Tentang pekerjaan yang menghidupi saya, dunia IT, juga justru ada bukan karena fasilitas yang ada, namun mau. Selama ada kemauan, di sana ada jalan. Banyak teman-teman yang akhirnya jago di IT karena mereka mau. 

Oh ya, posting ini juga tidak menyalahkan siapa yang tidak memberikan fasilitas pada saya, yaitu orang tua. Orang tua tidak selalu memahami bakat anak. Orang tua saya adalah orang tua yang memberikan dukungan dengan cara lain. Memberikan batas-batas. “Kamu boleh gini, asal tidak menganggu, kamu boleh belajar gitar, tapi tidak mengganggu siapa yang sedang tidur”. Hal itu akan mengasah kreativitas si anak agar bermain dengan koridor orang tuanya. Salah satu catatan bagus juga adalah bahwa adik saya juga justru berprofesi sebagai musisi. Tentu dengan kisah yang tak jauh dari saya.

Banyak cerita lucu juga dengan alat musik ini. Beberapa saat lalu, saya sedang makan sendirian di sebuah kafe bambu, ada pengamen. Saya minta berhenti, saya bilang : “gitare fales mas”, saya ambil gitarnya, stem, dan saya nekad main, dan dia saya minta mengambil uang. Setelah selesai kami makan bareng. Gitarnya justru dipinjam pembeli yang lain. 

Saat awal kuliah, di group pecinta alam saya pernah dikenalkan dengan seorang teman putri. Setelah berkenalan, para cowok sedang ramai memodus cewek ini, saya sendirian main gitar. Saat itu saya mainkan lagu “Damainya Cinta” Gigi. Tiba-tiba seorang teman keluar membawa pisau, sambil berkata bercanda : “Bim, nek mbok teruske drijimu tak iris”. Ternyata si mbak itu memperhatikan seseorang yang sedang main alat musik sendirian, dan lainnya merasa terusik. 

Bukan, saya juga bukan orang jago musik, tapi saya bisa bermain dengan metode sendiri. Mendengar sendiri, rearrange sendiri, dan memainkannya sendiri. (Nikmati sendiri tentunya). Sepertinya sambil sering menghibur diri dan keluarga, bolehlah suatu ketika akan saya coba ikut orang-orang upload video mereka. Semoga bisa jadi tontonan menarik dan menjadi hiburan khusus di kala anak-anak telah beranjak dewasa. Hahahaaa.. Barangkali juga bisa jadi ‘tutorial’ bagi orang-orang yang butuh cara BODHON bermain alat musik otodidak. Atau setidak-tidaknya ya semoga saat teman-teman nonton tidak mual-mual. Hahahaa..
===

Begitu saya catat dalam Facebook. Nah, sekarang? Alat-alat musik itu, sangat membebaskan saya dari kejenuhan. Jika orang lain memilih mencandu game untuk "merasa menyeimbangkan" kehidupan pekerjaan dan bersenang, saya memilih melepaskan kepenatan dengan membuat kreasi musik. Saya merasakan benar, hiburan paling menyenangkan adalah hiburan yang kita buat sendiri, kita produksi sendiri, kita nikmati sendiri, sukur-sukur kalau orang lain dapat ikut menikmati.

Kini saya tetap kembali ke jalur saya yang dulu, saya memilih bermain gitar dengan gaya fingerstyle. Gaya yang seluruh unsur bas, rhythm, melodi bahkan nada vokal dimainkan dalam satu gitar. Kadang bahkan kita lengkapi dengan percussion guitar. Memanfaatkan gitar sebagai alat musik pukul juga. Ada teknik dasar tersulit yang dimiliki Flamenco Style : arpeggio, legato, picado, rasqueado, golpe, tremollo, alzapua. Ternyata mempelajari hal seperti ini sangat menantang dan membuat penasaran setiap saat.


Di sisi harmonica tak kalah menantang. Jika pada guitar teknik classic asli itu lebih sulit ketimbang blues, maka ternyata di harmonica menurut saya lebih sulit blues ketimbang classic. Ini karena di blues lebih banyak memainkan bending , overblow, kadang kita harus bermain second position / cross harp atau bahkan 12th position. Kita juga perlu memiliki dua jenis harmonika : diatonic dan chromatic, untuk dapat mempelajari semua nada dan tekniknya di harmonika.





Ada cerita lain. Membawa harmonika ke dalam perjalanan dinas, ternyata tidak gampang juga. Di pemeriksaan keamanan bandara, harmonika ini sering sekali dicurigai sebagai benda tajam atau mencurigakan. Kadang dengan terpaksa menjelaskan ke mas petugasnya, sampai harus memainkan irama di depan petugas untuk membuktikan, tentu dengan semua mata tertuju pada saya.


Saya tidak mau berhenti belajar hal ini. Kelanjur jadi hobby. Sepertinya mengulang kondisi yang telah kita tahu dan kita kuasai itu : membosankan. Maka, apapun, mengembangkan apa yang telah kita pelajari, mencari hal-hal yang tak tahu sampai kita sesat, itu menyenangkan ya...

Youtube? Saran beberapa rekan juga seperti itu. Tapi sepertinya saya menundanya sampai saya mencoba memutuskan alat rekam live yang baik. Ya doakan saja.. Atau sudah punya saran alat audio video rekam live yang harga murah yang baik? Kabari saya ya.. 

Komentar