Langsung ke konten utama

Siapa di Belakang Gerakan Masif Pro Orde Baru "Piye Kabare Le"


Tentu kita sering melihat tulisan semacam ini, baik di belakang mobil-mobil angkot




Juga bisa melihat di pantat truk ataupun bis


Atau juga bisa melihat di baliho kampanye beberapa buah partai politik.


Gerakan ini sangat efektif untuk mendapatkan simpati masyarakat. Efektif karena berhasil memanfaatkan kaum-kaum jalanan yang sering kali dianggap sebagai kaum terpinggirkan atau kaum bawah. Tulisan di pantat truk, seringkali mencerminkan curahan hati secara lugas yang seakan-akan berasal dari para kru truk. Meski kadang juga bukan.

Gerakan masif ini selain saya salut terhadap efektif dan masif dibawah tanah, saya pandang berbahaya. Mengapa?


  1. Gerakan ini adalah gerakan putus asa terhadap perkembangan reformasi negeri ini. Negeri ini carut-marut bukan bagi saya adalah sebuah proses menuju ke posisi kesetimbangan, seperti sebuah kelereng yang berada di dalam piring, dia akan tetap bergerak sampai menemukan kesetimbangan. Kelereng itu sudah terlalu lama diletakkan pada bagian atas piring selama 32 tahun. Maka kesetimbangannya butuh waktu yang cukup lama. Apakah kita menghormati perkembangan negeri ini?
  2. Gerakan tersebut, menunjukkan betapa negeri ini masih enggan berbicara masa depan. Tapi lebih suka masa silam yang suram, daripada memecahkan tantangan misteri masa depan.
  3. Selain gerakan PUTUS ASA terhadap perkembangan, gerakan ini adalah curahan hati para orang MALAS berpikir dan bekerja, sehingga senantiasa berharap kondisi seperti masa lalu, enggan berjalan ke masa depan.
  4. Di samping itu gerakan ini, akan mudah menjangkau orang yang memikirkan perutnya sendiri, tanpa berpikir orang lain. Dia berharap dengan kondisi masa lalunya dia bisa kenyang sekalipun banyak orang lain harus mati meregang nyawa karena diculik, atau desa yang harus dikucilkan karena saat pemilu tidak pro orde baru, hak asasi manusia yang tidak dihormati.
  5. Gerakan ini, adalah wujud penyalahan terhadap waktu. Saya yakin si pemilik gerakan pro orde baru ini, jika bukan orang yang ada di lingkaran orde baru, ya orang yang sebenarnya juga menderita. Hanya saja sekarang mereka bisa menyalahkan proses yang terjadi di negeri ini. Saya tidak mengatakan gerakan reformasi. Tapi proses ini adalah keniscayaan.
  6. Gerakan ini dimiliki dan didukung oleh orang bermental antek asing. Saya yakin jika orang tersebut lahir di jaman Soekarno, dia akan berkata "Aku milih dijajah Belanda daripada merdeka tapi lapar". Lebih parah dari Malaysia
Nah? Anda punya masa depan? Mengapa anda memilih kembalinya rezim Korupsi Kolusi dan Nepotisme itu kembali, yang jika dia tetap ada, belum tentu nyawa anda itu diberi harga!


Bahkan saya menyatakan tidak untuk gerakan ini:


Saya pun membiarkan coach berikutnya untuk berkembang :D (ra ketang tak pisuhi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ICU

Malam itu saya masih mondar-mandir dekat ruang tunggu ICU sebuah Rumah Sakit di kota kami. Setenang-tenang menjaga keluarga yang sakit di ruang perawatan khusus memang tidak ada yang enak. Masih berpikir tentang setelah sembuh apa yang harus dilakukan agar yang sekarang sakit menjadi sehat kembali, berpikir juga tentang pekerjaan yang terbengkalai, berpikir juga biaya, dan hal-hal yang terjadi berhubungan akibat dengan adanya sakit tersebut. Sekonyong-konyong muncul sebuah tandu dorong yang sedang berisi orang sakit, masuk ke ruang ICU dengan peralatan infus dan lain sebagainya. Sepertinya seorang wanita. Tandu didorong oleh tiga orang lelaki berseragam operasi, dan dipandu seorang wanita yang juga masih menggunakan masker operasi. Tandu didorong masuk ruangan, dan seorang laki-laki bermasker tadi meminta keluarga berhenti pada batas ruangan, meminta agar keluarga tidak memasuki ruangan ICU lebih dulu. Wajah tegang dan gelisah terlihat di wajah para anggota keluarga. Ada sekit...

Bocah Bajang penghuni Terowongan Sungai

Boleh ya, saya cerita horor lagi. Meski saya memang ndak suka pikiran saya berisi hal-hal yang tak masuk akal. Saya yakin, semua ada penjelasan ilmiahnya, cuma kita yang belum sampai saja. Saya pernah cerita tentang horor itu di  https://bimosaurus.wordpress.com/2014/05/18/sebuah-cerita-dari-bukit-seduplak-roto/ dan ini  https://bimosaurus.wordpress.com/2014/02/21/lampor-sindoro/ . Cerita ini adalah di kampung saya, di Wonosobo. Rumah orang tua yang damai. Dulu rumah itu membelakangi sungai dan jalan raya (jalan Bismo). Untuk ke depan rumah harus lewat kampung dulu. Bapak akhirnya mengubah rumah dengan cara menutup sungai dengan membangun terowongan, dan menghadapkan rumah ke jalan Bismo itu. Pembangunan terowongan itu tidak berlangsung lancar. Bapak mulai membangun terowongan itu saat saya masih kelas 5 SD. Terowongan itu di atasnya ditimbun tanah hingga rata dengan jalan. Kemudian bapak baru sempat merenovasi rumah itu setelah saya SMA.  Saat timbunan tanah terowongan...

Memulai Lari Lagi

Lari dan Sejarah dalam Keluarga Kami Keluarga kami memiliki sejarah dengan kegiatan satu ini : lari. Almarhum bapak saya, adalah seorang pejuang angkatan 45, yang memiliki riwayat perang gerilya dan Long March. Beliau suka dengan jalan jauh dan lintas alam. Lari pagi selalu dilakukannya dua hari sekali. Saking hobinya lari dan jalan kaki, di manapun bapak selalu ingin jalan kaki dan lari.  Bahkan, empat hari menjelang meninggalnya, atau dua hari sebelum bapak masuk Rumah Sakit ICU untuk pertama kalinya, bapak masih berjalan kaki mengurus semua aset perbankan bapak muter ke seluruh bank-bank yang bapak masih ada urusan di sana, dengan berjalan kaki. Kemudian, beliau datang ke salah satu kyai yang bapak pernah punya masalah dengannya. Bapak membuat rekonsiliasi, minta maaf atas segala perilaku, juga datang berjalan kaki. Pak kyai bilang "Bapak njenengan jalan ke sini dengan gagah sekali, saya takut beliau mau ngapa-ngapain saya, dan saya heran, bapak meminta maaf atas segala tindaka...