Langsung ke konten utama

Sekoci Bimo Lukar

Terserahkan pendapat pada rekan pembaca, tentang limbungnya jiwa akan hausnya mengikat wacana dalam aksara. Tersadar jiwa bahwa tak semua wacana dapat terlaksana, maka menuliskan dan membagikannya terharapkan bisa berguna bagi sesama. Limbung jiwa akibat hilang sarana menyebar wacana, membuat kami yang terbiasa bercanda ringan dalam berwacana aksara, harus bimbang jiwa.

Segelintir usaha, membangun sebuah bahtera, baru dan pengganti untuk menampung para pembagi wacana aksara, belumlah usai kami pancangkan tiangnya. Harap cemas dan cepat agar kelar semuanya..

Berharap dapat menikmati sedikit samudera kata-kata, kami berusaha mencari sekoci sementara, dan kemudian mengendarainya.. Harap-harap agar keinginan isi kepala dapat mengalir ke arcapada. Terpilihlah oleh saya, Bimo Lukar. Lukar adalah telanjang. Bimo Lukar juga nama sebuah mata air dari sungai Serayu.. yang kelak akan dapat membasahi, dan mengairi, gersangnya ladang kata-kata...





Kisah tentang ini dapat rekan pembaca baca dalam blog akhir kami di bimosaurus.multiply.com.. semoga masih ada..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ICU

Malam itu saya masih mondar-mandir dekat ruang tunggu ICU sebuah Rumah Sakit di kota kami. Setenang-tenang menjaga keluarga yang sakit di ruang perawatan khusus memang tidak ada yang enak. Masih berpikir tentang setelah sembuh apa yang harus dilakukan agar yang sekarang sakit menjadi sehat kembali, berpikir juga tentang pekerjaan yang terbengkalai, berpikir juga biaya, dan hal-hal yang terjadi berhubungan akibat dengan adanya sakit tersebut. Sekonyong-konyong muncul sebuah tandu dorong yang sedang berisi orang sakit, masuk ke ruang ICU dengan peralatan infus dan lain sebagainya. Sepertinya seorang wanita. Tandu didorong oleh tiga orang lelaki berseragam operasi, dan dipandu seorang wanita yang juga masih menggunakan masker operasi. Tandu didorong masuk ruangan, dan seorang laki-laki bermasker tadi meminta keluarga berhenti pada batas ruangan, meminta agar keluarga tidak memasuki ruangan ICU lebih dulu. Wajah tegang dan gelisah terlihat di wajah para anggota keluarga. Ada sekit...

Bocah Bajang penghuni Terowongan Sungai

Boleh ya, saya cerita horor lagi. Meski saya memang ndak suka pikiran saya berisi hal-hal yang tak masuk akal. Saya yakin, semua ada penjelasan ilmiahnya, cuma kita yang belum sampai saja. Saya pernah cerita tentang horor itu di  https://bimosaurus.wordpress.com/2014/05/18/sebuah-cerita-dari-bukit-seduplak-roto/ dan ini  https://bimosaurus.wordpress.com/2014/02/21/lampor-sindoro/ . Cerita ini adalah di kampung saya, di Wonosobo. Rumah orang tua yang damai. Dulu rumah itu membelakangi sungai dan jalan raya (jalan Bismo). Untuk ke depan rumah harus lewat kampung dulu. Bapak akhirnya mengubah rumah dengan cara menutup sungai dengan membangun terowongan, dan menghadapkan rumah ke jalan Bismo itu. Pembangunan terowongan itu tidak berlangsung lancar. Bapak mulai membangun terowongan itu saat saya masih kelas 5 SD. Terowongan itu di atasnya ditimbun tanah hingga rata dengan jalan. Kemudian bapak baru sempat merenovasi rumah itu setelah saya SMA.  Saat timbunan tanah terowongan...

Memulai Lari Lagi

Lari dan Sejarah dalam Keluarga Kami Keluarga kami memiliki sejarah dengan kegiatan satu ini : lari. Almarhum bapak saya, adalah seorang pejuang angkatan 45, yang memiliki riwayat perang gerilya dan Long March. Beliau suka dengan jalan jauh dan lintas alam. Lari pagi selalu dilakukannya dua hari sekali. Saking hobinya lari dan jalan kaki, di manapun bapak selalu ingin jalan kaki dan lari.  Bahkan, empat hari menjelang meninggalnya, atau dua hari sebelum bapak masuk Rumah Sakit ICU untuk pertama kalinya, bapak masih berjalan kaki mengurus semua aset perbankan bapak muter ke seluruh bank-bank yang bapak masih ada urusan di sana, dengan berjalan kaki. Kemudian, beliau datang ke salah satu kyai yang bapak pernah punya masalah dengannya. Bapak membuat rekonsiliasi, minta maaf atas segala perilaku, juga datang berjalan kaki. Pak kyai bilang "Bapak njenengan jalan ke sini dengan gagah sekali, saya takut beliau mau ngapa-ngapain saya, dan saya heran, bapak meminta maaf atas segala tindaka...