Langsung ke konten utama

The Unforgiven Decision

Sometimes it's the smallest decisions that can change your life forever - Keri Russel.

Pertama membaca pepatah itu, kadang sedikit meremehkan.. Ah masak iya, keputusan kecil sanggup mengubah seluruh hidup? Beberapa hari lalu saya membaca sebuah cerita di sebuah posting yang membawa kembali pepatah tersebut, dan sedikit gengsi untuk mengatakan : iya, itu bisa jadi benar.

Terkadang sebagai manusia, sering tidak berpikir panjang, dan mengandalkan emosional belaka. Perasaan tidak enak, perasaan takut, perasaan terlalu senang, sehingga tatkala perasaan sesaat itu muncul, ketika ditanya tentang sebuah hal yang melibat keputusan, tanpa pikir panjang langsung diberikan sebuah keputusan. Padahal keputusan itu banyak macamnya, termasuk 'keputusan beresiko'. Keputusan beresiko, jika diambil sembarangan akan membawa akibat yang fatal. Kasus yang dapat diambil pelajaran akan saya ceritakan dalam sebuah curhat ini yang saya anggap sebagai kesalahan saya, dan saya menganggap sebagai sebuah keputusan tak termaafkan..

--

Beberapa tahun lalu, saya memiliki cita-cita sendiri untuk berjalan dengan kebebasan dalam hal berprofesi.  Dari sebuah proses, saya pun keluar dari posisi saya di sebuah perusahaan swasta. Rencana panjang telah tersiapkan untuk menyongsong hari kebebasan tersebut. Saya mengatakan sebuah keputusan fatal telah saya ambil ketika mengijinkan orang lain mengambil alih segala hal yang berkaitan rencana tersebut. Saya menerima ajakan orang lain untuk bekerja sama, tanpa memeriksa lebih dahulu siapa mereka, siapa jaringan mereka, apa adat mereka, apa kebiasaan mereka, apa sudut pandang yang mereka bangun. Tidak curiga pada orang lain itu boleh, namun waspada adalah sangat penting, apalagi terbukti bahwa diri sedang berhadapan dengan orang yang curang.
Sekedar menyenangkan teman, sekedar merasa ada teman, berujung pada sebuah keputusan menerima 'komitmen' sepihak. Diantara nilai-nilai komitmen tersebut terlalu banyak merugikan diri saya. Sehingga bukan kebebasan yang telah dapat saya ambil, melainkan sebuah kerja rodi, mulai dari mengorbankan keluarga, mengorbankan segala hal, dan terutama sesuatu yang saya anggap sebagai "dua tahun yang hilang". Hutang membengkak, segala rencana harus dimulai dengan 'cacat' yang sudah terlanjur ada di pandangan client. Sementara waktu terus mengejar, segala macam bayangan yang berkaitan dengan usia mengejar.. 

--

Kini kita jauh lebih harus mengerti bahwa tidak seharusnya keputusan diri tereliminasi oleh apapun, karena yang akan menghadapi adalah bukan kita sendiri, melainkan keluarga kita.

Mario Teguh bilang : "Ini hidup anda sendiri, maka tegaslah"

Kalimat itu menjadikan saya memilih jalur keluar begitu saja dari tempat yang telah terbukti berkali-kali menipu saya. Sebuah keputusan besar, yang saya harap dapat mengembalikan hidup lebih baik, telah saya buat. Bekerja bersama tetap harus berjalan, namun tidak seharusnya satu pihak mengunci pihak yang lain hanya karena satu pihak itu dengki, tidak ingin memandang orang lain lebih.

Cerita ini semula adalah saya anggap aib. Namun sepertinya perlu untuk pelajaran semua orang. Marilah memandang sebuah informasi yang mengundang keputusan itu dengan lebih sabar. "Saya tidak bisa memutuskan hari ini" atau kata penundaan lain yang dapat memberikan waktu bagi rasio kita untuk lebih berpikir sejuk, tentu akan sangat membantu. Menyesal akibat tidak berpikir lebih dulu, akan sangat lebih sakit daripada menyesal karena salah perhitungan.


Mari selamat mempelajari kenyataan yang telah didapat orang-orang. Bukankah orang beruntung adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain?



Seorang pendaki yang tersesat akan tidak bijak jika tetap berjalan... Berdiam, beri waktu otak untuk berpikir, barulah ambil keputusan dan bertindak secepatnya.

Ambil waktu! Lepaskan lelah, gunakan rasio, dan ambil keputusan.. New day will come!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ICU

Malam itu saya masih mondar-mandir dekat ruang tunggu ICU sebuah Rumah Sakit di kota kami. Setenang-tenang menjaga keluarga yang sakit di ruang perawatan khusus memang tidak ada yang enak. Masih berpikir tentang setelah sembuh apa yang harus dilakukan agar yang sekarang sakit menjadi sehat kembali, berpikir juga tentang pekerjaan yang terbengkalai, berpikir juga biaya, dan hal-hal yang terjadi berhubungan akibat dengan adanya sakit tersebut. Sekonyong-konyong muncul sebuah tandu dorong yang sedang berisi orang sakit, masuk ke ruang ICU dengan peralatan infus dan lain sebagainya. Sepertinya seorang wanita. Tandu didorong oleh tiga orang lelaki berseragam operasi, dan dipandu seorang wanita yang juga masih menggunakan masker operasi. Tandu didorong masuk ruangan, dan seorang laki-laki bermasker tadi meminta keluarga berhenti pada batas ruangan, meminta agar keluarga tidak memasuki ruangan ICU lebih dulu. Wajah tegang dan gelisah terlihat di wajah para anggota keluarga. Ada sekit...

Bocah Bajang penghuni Terowongan Sungai

Boleh ya, saya cerita horor lagi. Meski saya memang ndak suka pikiran saya berisi hal-hal yang tak masuk akal. Saya yakin, semua ada penjelasan ilmiahnya, cuma kita yang belum sampai saja. Saya pernah cerita tentang horor itu di  https://bimosaurus.wordpress.com/2014/05/18/sebuah-cerita-dari-bukit-seduplak-roto/ dan ini  https://bimosaurus.wordpress.com/2014/02/21/lampor-sindoro/ . Cerita ini adalah di kampung saya, di Wonosobo. Rumah orang tua yang damai. Dulu rumah itu membelakangi sungai dan jalan raya (jalan Bismo). Untuk ke depan rumah harus lewat kampung dulu. Bapak akhirnya mengubah rumah dengan cara menutup sungai dengan membangun terowongan, dan menghadapkan rumah ke jalan Bismo itu. Pembangunan terowongan itu tidak berlangsung lancar. Bapak mulai membangun terowongan itu saat saya masih kelas 5 SD. Terowongan itu di atasnya ditimbun tanah hingga rata dengan jalan. Kemudian bapak baru sempat merenovasi rumah itu setelah saya SMA.  Saat timbunan tanah terowongan...

Memulai Lari Lagi

Lari dan Sejarah dalam Keluarga Kami Keluarga kami memiliki sejarah dengan kegiatan satu ini : lari. Almarhum bapak saya, adalah seorang pejuang angkatan 45, yang memiliki riwayat perang gerilya dan Long March. Beliau suka dengan jalan jauh dan lintas alam. Lari pagi selalu dilakukannya dua hari sekali. Saking hobinya lari dan jalan kaki, di manapun bapak selalu ingin jalan kaki dan lari.  Bahkan, empat hari menjelang meninggalnya, atau dua hari sebelum bapak masuk Rumah Sakit ICU untuk pertama kalinya, bapak masih berjalan kaki mengurus semua aset perbankan bapak muter ke seluruh bank-bank yang bapak masih ada urusan di sana, dengan berjalan kaki. Kemudian, beliau datang ke salah satu kyai yang bapak pernah punya masalah dengannya. Bapak membuat rekonsiliasi, minta maaf atas segala perilaku, juga datang berjalan kaki. Pak kyai bilang "Bapak njenengan jalan ke sini dengan gagah sekali, saya takut beliau mau ngapa-ngapain saya, dan saya heran, bapak meminta maaf atas segala tindaka...